Senin, 30 Mei 2011

Hakikat Cinta dan Pernikahan dalam Islam


Oleh : Agustiar Nur Akbar

Cinta mengandung energi yang sangat besar, energi yang sangat luar biasa. Itulah kenapa seorang ibu rela berkorban sekalipun nyawanya demi sang anak. Seorang suami dapat tak hiraukan lelah dan peluh yang bercucuran demi anak istrinya. Para sahabat rela berkorban demi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Dan Romeo yang rela mati demi Juliet kekasihnya (sebenarnya ini adalah perbuatan bodoh atas nama cinta).

Energi cinta yang besar mempunyai kekuatan untuk mendorong seseorang melakukan sesuatu diluar akal sehatnya. Dan memberi kekuatan besar bagi seseorang untuk melakukan Sesuatu yang ia cintai.

Namun sayang, seringkali kekuatan energi cinta yang begitu besar menguap begitu saja tanpa ada sinergi dengan hal positif. Hal ini banyak terjadi dikalangan kawula muda kita, sahabat-sahabat kita, dan saudara-sadara kita. Atau mungkin justru kita sendiri. Cinta yang mereka usung selalu semu dan fana. Terbukti dengan kekecewaan, dan kesedihan yang diderita pada akhirnya secara sia-sia.

Sudah menjadi fitrah cinta yang timbul antara pria dan wanita yang bukan mahram. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al Quranul Karim. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S Ar Rum [30] : 21).

Cinta walaupun mempunyai energi yang luar biasa namun ia juga rapuh. Islam mensyariatkan pernikahan untuk untuk melindunginya dari kemadharatan yang ada padanya. Dengan akad pernikahan, Islam menghalalkan segala macam bentuk ekspresi cinta dari pasangan suami istri. Bahkan setiap ekspresi dari cinta tersebut bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Pengorbanan atas nama cinta tidak lagi menjadi sia-sia. Akan tetapi bernilai sangat istimewa.

Rasa letih, lelah sang kepala keluarga untuk anak istri menjadi ibadah. Kesabaran istri dalam taat kepada suami, melayaninya dan mengasuh serta mendidik anak-anaknya menjadi ibadah. Dari hal terkecil sampai dengan hal yang paling besar terhitung ibadah.

Kerapuhan cinta bisa membuat dua insan berpisah. Dalam syariat pernikahan Islam. Islam menjaga hak setiap pihak, sehingga tidak ada yang dirugikan. Ketika terjadi perpisahan atau perceraian hak dan kewajiban dari kedua belah pihak telah diatur dengan sempurna. Dari mulai yang terkait dengan diri sendiri secara langsung. Seperti mut-ah (pemberian kepada istri ketika dicerai), dan aturan untuk rujuk. Maupun yang terkait dengan pihak lain, seperti pembagian waris dan aturan menikah kembali dengan pasangan yang berbeda.

Tidak ada isitilah pihak yang dirugikan disini. Pihak yang lepas dari tanggung jawabnya seperti menelantarkan anak dan istrinya. Ia akan diperhitungkan baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. Keributan akibat harta gono-gini antara pasangan pun tidak akan terjadi. Karena telah diatur dalam pembagian waris dan penentuan kepemilikan harta.

Dengan demikian energi cinta yang besar tidak akan sia-sia serta tidak membahayakan. Rapuhnya pun tidak akan merugikan satu pihak, apalagi menderita sia-sia. Seperti pasangan yang ditinggal kekasihnya dan ia dalam keadaan mengandung, misalnya. Dari sini kita juga dapat mengatakan, penghargaan tertinggi untuk wanita atas nama cinta adalah pernikahan secara Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.


Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang kini tengah menimba ilmu di Kairo, Mesir.

Memilih Buah-buahan yang Manis



  • Oleh: Amelia Ayu Kinanti

    Terkadang kita tidak tahu buah seperti apa yang matang dan manis saat berbelanja. Petunjuk berikut akan membantu Anda.
    Yang perlu Anda ketahui adalah ciri-ciri kematangan dalam tiap-tiap buah. Ini cirinya seperti dikutip dari Six Wise.
    Jeruk
    Kematangan jeruk tak hanya bisa dilihat dari warna kulit semata. Terkadang ada juga jeruk yang kulitnya masih kehijauan, namun tingkat kematangannya sudah cukup. Apalagi tak jarang ada beberapa oknum pedagang yang sengaja memberi pewarna pada buah-buah yang dijualnya agar terlihat matang. Lebih baik coba perhatikan tingkat kehalusan kulit jeruk. Semakin halus kulit jeruk dan semakin berat bobotnya, maka semakin matang jeruk tersebut.
    Semangka
    Tak perlu memotong semangka utuh untuk mengetahui tingkat kematangannya. Sama halnya dengan jeruk, semakin berat dan halus kulitnya, maka semangka semakin matang. Ciri lain yang bisa di lihat adalah warna kekuningan yang ada di ujung buah semangka. Semakin lebar warna itu, maka semakin matang buahnya.
    Stroberi
    mencari stroberi yang matang cenderung lebih mudah. Anda hanya perlu melihat warna merahnya. Semakin tua warnanya maka semakin matang stroberi tersebut. Jangan memilih stroberi yang memiliki warna kehijauan atau kekuningan, karena rasanya pasti masih asam. Jangan juga memilih stroberi yang terlalu besar, karena biasanya kadar air stroberi itu lebih banyak sehingga rasanya tawar.
    Nanas
    Selain warna kekuningan, yang menandakan kematangan buah nanas adalah bau harum yang menyerbak dari buahnya. jadi pilihlah nanas yang harum saat membeli.
    Mangga
    Kematangan mangga tak selalu bisa dilihat dari warna kulitnya. terkadang ada mangga yang sudah matang namun kulitnya masih berwarna hijau tua. Ciri-ciri mangga yang matang adalah daging buahnya yang lebih lembut. Coba tekan kulit mangga saat membelinya, untuk memilih mangga yang matang. Biasanya, magga yang matang juga mengeluarkan aroma yang harum
    Ayo pilah-pilih buah favorit Anda!