Tampilkan postingan dengan label Tips dan trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips dan trik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 September 2013

Menghabiskan Uang Di Jalan yang Benar

dakwatuna.com .  Bagi sebagian besar orang Indonesia, hidup dengan uang bulanan (baca : gaji) adalah sesuatu yang umum. Karena kebanyakan dari mereka bekerja sebagai karyawan, PNS, profesional, dan lain-lain. Tidak menutup kemungkinan adanya profesi pengusaha di Indonesia ini, tetapi yah tidak banyak, bahkan jumlahnya masih di bawah 1% dari penduduk Indonesia. Jadi diasumsikan masih banyak rakyat yang mengandalkan gaji perbulan untuk hidup. Right?
Berbicara tentang gaji / pendapatan bulanan, maka akan terpikir, “kalau saja gaji saya lebih besar, pasti saya akan menabung”, “kalau saja saya bisa naik jabatan, maka investasi saya akan rutin setiap bulan” dan lain-lain. Tak usah berbicara tentang orang dewasa yang sudah memiliki gaji bulanan yang tetap, mahasiswa pun juga memiliki problematika yang sama, dapat uang saku bulanan, tetapi kok rasanya cepat banget ya habisnya? Nah lho!
Sebagai seorang mahasiswa saya juga mengalami hal tersebut, terasa kadang uang bulanan cepat sekali habis, dan tak tahu habisnya ke mana. Apakah habis untuk hal-hal yang bermanfaat atau cuma habis untuk sekedar konsumtif atau biaya hidup sajasaya juga tidak tahu
Beberapa hari yang lalu, ketika mengunjungi toko buku besar, saya melihat sebuah buku berjudul Habiskan Saja Gajimu. Di buku itu di jelaskan sebuah konsep menghabiskan uang, bukan menyisakan uang seperti yang dilakukan sebagian besar orang. Iya tho? Kenapa Ahmad Gozali dalam bukunya tersebut mengagas konsep “habiskan” bukan “sisakan”, karena menghabiskan itu jelas lebih enak, nikmat, dan menyenangkan di bandingkan dengan menyisakan, kita akan stress berpikir untuk menyisakan uang. Dan karena sesungguhnya hakikat uang memang untuk di belanjakan / di habiskan tho?
Menghabiskan Uang di Jalan yang Benar merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang. Ilmu ini merupakan ilmu penting untuk setiap orang yang akan merasakan gaji perbulan nantinya. Prioritas pengeluaran adalah hal multak yang harus di pelajari jika tidak ingin uang kita terbuang sia-sia. Maka dari itu ada 4 (empat) urutan yang harus di penuhi untuk Menghabiskan Uang Di Jalan yang Benar. Cekidot!
Pertama, Pengeluaran Sosial. Ketika menerima gaji atau mendapatkan uang saku bulanan. Maka zakat, infak, atau shodaqoh wajib dilaksanakan, karena ini merupakan hak orang lain yang ada di dalam harta kita. Pengeluaran sosial menjadi prioritas pertama kenapa? karena hal ini sering di tunda-tunda dan cenderung di sepelekan, biasanya infak itu kalau ada sisa saja, dan itu juga kalau ada. Padahal kita tahu bahwa semua ajaran agama menyuruh kita untuk mengeluarkan sebagian dari harta kita bukan? dan ingat di dalam harta kita (gaji/uang saku) ada hak mereka yang membutuhkan. Jangan di embat juga. Right?
Kedua, Bayar Utang atau Cicilan. Ini nih yang sering di lupakan juga. Karena sifat utang, kita jadi sering menunda-nunda. Apalagi kalau teman dekat, mungkin nanti saja kalau ingat, toh teman dekat. gitu kan? Padahal dengan membayar uang dijadikan prioritas kedua, maka sebagian beban kita jadi terangkat, tidak ada pihak ketiga yang terus mengentayangi di pikiran kita. Jadi plong!
Ketiga, Saving atau Invesitasi. Menabung atau investasi? ah nanti saja, kalau ada sisa. Wah itu mah mindset yang salah bro. Kalau menabung atau investasi kita bangun dari hal-hal yang sisa, maka nanti hasilnya tidak pernah tercapai. Coba dipikirkan, dengan menyisakan uang untuk berinvestasi di akhir bulan kira-kira menderita ga? Mau beli ini itu jadi mikir-mikir, jadi ga tenang hidup. Kita jadi diatur sama uang. Dan (biasanya) akhirnya di akhir bulan tidak ada uang yang tersisa untuk menabung atau investasi. So, inilah alasan kenapa menabung atau investasi di jadikan prioritas ketiga.
Keempat, Biaya Hidup. Saya kasih tahu sebuah rahasia, kenapa orang biasa akan tetap menjadi biasa, dan orang kaya akan semakin kaya, karena mereka (orang biasa) menempatkan prioritas Biaya Hidup di atas, bahkan pertama, dan mereka (orang kaya) menempatkan prioritas Biaya Hidup di prioritas akhir. Kenapa bisa begitu? bukankah biaya hidup itu penting? ya penting! tetapi sifatnya tidak Fixed, tetapi Flexible! Maksudnya setiap orang dapat mengatur biaya hidupnya, dapat menekan biaya hidupnya, dan mengatur ulang menu makannya. Jika hanya berpikir “bagaimana caranya membuat dapur ini ngebul” dulu, maka Biaya Hidup ini akan kita jadikan prioritas pertama, dan ini SANGAT BERBAHAYA. Ketika biaya hidup sudah jadi prioritas utama, maka bayar utang yah nanti saja, bulan depan. Maka investasi atau menabung, yah nanti saja kalau ada sisa. Bahkan (parahnya), zakat, infak, shodaqoh yah ga wajib bayar kan? Tuh akan jadi seperti itu. Sekali lagi biaya hidup ini sifat Flexible (dapat di ubah-ubah) bukan Fixed (tetap)
Nah setelah mengetahui 4 (empat) alur prioritas bagaimana kita Menghabiskan Uang Di Jalan yang Benar, marilah kita mencoba untuk menerapkan prinsip menghabiskan ini. Karena sesungguhnya urutan prioritas ini di buat berdasarkan hak-haknya masing-masing. Kita harus membersihkan harta kita dulu dengan Pengeluaran Sosial, kemudian kita harus memenuhi hak-hak orang yang kita utangi (Bayar Cicilan/utang), kemudian kita harus memenuhi hak-hak investasi atau tabungan kita untuk masa depan nanti (saving/investasi), dan terakhir barulah kita mendapatkan hak kita dari gaji yang kita dapatkan selama bekerja satu bulan.
Semoga Bermanfaat

Kamis, 22 Agustus 2013

10 Cara Kreatif Mengajar Matematika

Berikut ini ada beberapa aktifitas di kelas untuk menumbuhkan kreativitas dalam pengajaran matematika. Dalam pengajaran, sering-seringlah mengajukan pertanyaan kritis seperti “Apakah Kamu mencoba ini?” “Apa yang akan terjadi jika ada ini ?” “Apakah kamu dapat?” untuk meningkatkan pemahaman anak-anak dari ide-ide dan kosakata matematika. Berikut beberapa aktifitas yang mungkin dapat dipraktekkan di kelas:
1. Gunakan dramatisasi. Ajaklah anak-anak berpura-pura berada di sebuah bola (sphere) atau kotak (prisma), merasakan sisi-sisinya, ujung-ujungnya, dan sudutnya dan menyandiwarakan secara sederhana masalah aritmatika seperti: Tiga katak melompat dalam kolam dsb.
2. Menggunakan anggota tubuh anak-anak. Menyarankan agar anak-anak menunjukkan berapa banyak kaki, mulut, dan sebagainya. Ketika diminta untuk menampilkan “tiga tangan,” mereka akan menanggapi dengan protes keras, dan kemudian menunjukkan berapa banyak tangan yang mereka memiliki( “membuktikan”) ini. Kemudian mengajak anak-anak untuk menampilkan nomor dengan jari, dimulai dengan pertanyaaan sederhana, “Berapa usia Kamu?” Kemudian siswa diminta menunjukkan angka yang diminta guru. Selain itu guru menampilkan angka dalam berbagai cara (misalnya, menunjukkan lima dengan tiga pada jari tangan kiri dan dua di jari tangan kanan).
3. Menggunakan permainan. Melibatkan anak-anak bermain yang memungkinkan mereka untuk melakukan matematika dalam berbagai cara, termasuk pengurutan, menciptakan bentuk simetris dan bangunan, membuat pola, dan sebagainya. Kemudian memperkenalkan permainan jual-beli di toko, menunjukkan anak-anak permainan membeli dan menjual mainan atau benda kecil lainnya, belajar menghitung, aritmatika, dan konsep uang.
4. Menggunakan mainan. Mendorong anak-anak untuk menggunakan “adegan” dan mainan untuk simulasi kejadian nyata, seperti tiga mobil di jalan, atau misalnya, untuk menunjukkan ada dua monyet di atas pohon dan dua di atas tanah.
5. Menggunakan cerita anak-anak. Bercerita tentang sebuah kisah menarik yang didalamnya berisi konsep matematika. Jika perlu diperagakan khususnya untuk memperjelas konsep matematikanya
6. Gunakan kreativitas alami anak. Menggali ide anak tentang matematika harus didiskusikan dengan mereka. Misal seorang anak 6 tahun ditanya begini: “Pikirkan angka terbesar yang kamu tahu, lalu tambah angka itu dengan lima. Bayangkan kamu memiliki coklat sejumlah angka itu”. “Wow, itu 5 angka lebih besar yang kamu tahu”.
7. Menggunakan kemampuan pemecahan masalah. Menanyakan anak-anak untuk menjelaskan bagaimana mereka mengetahui masalah-masalah seperti mendapatkan hanya cukup untuk mereka gunting tabel atau berapa banyak makanan ringan mereka perlu jika tamu yang bergabung dengan grup. Mendorong mereka untuk menggunakan jari-jari mereka sendiri atau apapun yang mungkin berguna untuk memecahkan masalah.
8. Menggunakan berbagai strategi. Bawalah matematika dimanapun di dalam kelas, dari menghitung jumlah anak-anak di pagi hari, menghitung meja kursi, meminta anak-anak untuk membersihkan barang yang ada nomor tertentu, atau membersihkan barang yang berbentuk geometris tertentu dsb.
9. Menggunakan teknologi. Cobalah gunakan kamera digital untuk memotret hasil kerja anak, permainan dan aktifitas yang dilakukan, dan kemudian menggunakan foto untuk diskusi dengan anak-anak, perencanaan kurikulum, dan komunikasi dengan orang tua. Gunakan juga teknologi lain, seperti komputer secara bijak.
10. Gunakan assessment untuk mengukur penilaian anak-anak belajar matematika. Menggunakan observasi, diskusi dengan anak-anak, dan kelompok-kecil untuk kegiatan belajar anak-anak tentang matematika dan berpikir untuk membuat keputusan tentang apa yang mungkin setiap anak dapat belajar dari pengalaman. Juga mencoba menggunakan komputer untuk penilaian menggunakan program secara otomatis.
sumber : edukasiana.com

Mendidik Anak Menjadi Kreatif

Anak yang aktif adalah anak dambaan seluruh orang tua. Pasti terbayangkan betapa menyenangkannya memiliki anak yang aktif dan menggemaskan. Ya, anak yang aktif melakukan sesuatu memang ada saja polah tingkah lakunya dan selalu membuat orang tua tersenyum.
Ibu Yani mempunyai anak berumur enam tahun. Ia selalu mengajak anaknya untuk berpikir kreatif tentang segala hal.
“Saat bermain balok, biasanya saya sering membiarkan anak bebas membentuk balok-balok itu jadi apa. Saya juga membebaskan anak untuk mengembangkan bakat sesuai hobinya. Kami tak ingin memaksa. Karena jika dipaksa, anak pikirannya malah jaid mandheg (berhenti),” ujarnya.
Contoh di atas bisa kita aplikasikan pula kepada anak-anak kita. Mereka akan merasa senang ketika orang tua memberi kepercayaan untuk mengembangkan kreatifitasnya sendiri tanpa paksaan. Selain itu, tanpa tekanan, anak akan dengan mudah mengaktualisasikan apa yang ingin dilakukannya. Selama itu semua dalam hal positif, maka setiap orang tua wajib memberikan dukungan dan kepercayaan.
Selalu Berfikir Positif
Ada banyak cara yang dapat dilakukan orang tua agar keaktifan anak bisa mengarah pada hal-hal yang positif, misalnya saja menjadi anak yang kreatif dengan segala keaktifannya. Untuk menunmbuhkan kekreatifan anak, ada beberapa hal pola pengasuhan yang harus diperhatikan
Pertama, orang tua hendaknya tidak membatasi anak dengan banyak larangan. Sebagaimana yang kita ketahui, anak yang aktif adalah anak yang suka bergerak. Hal ini sudah menjadi sifat dari anak yang aktif. Apabaila orang tua terlalu memberikan banyak hal, tentu anak akan merasa dikekang. Memang ada saatnya anak menuruti aturan orang tua. Akan tetapi, bila ada hal-hal yang membuat anak kecewa, anak bisa berubah menjadi anak yang tidak mau tahu dengan aturan dan perlahan menjadi anak yang memberontak. Anak kreatif biasanya membutuhkan diskusi atau bertukar pikiran untuk mengembangkan ide-idenya. Untuk itu, tidak ada salahnya jika orang tua sesekali mengajak anak mendiskusikan apa yang akan diberikan orang tua dan tak lupa untuk selalu memberikan alasan yang logis ketika hendak melarang atau menolak ide anak.
Kedua, pengarahan yang logis. Kebanyakan anak yang aktif adalah anak yang pandai. Hal ini disebabkan karena otak mereka tidak pernah berhenti bekerja. Apabila anak bisa diarahkan ke hal-hal positif, hal ini dapat menjadikan nilai lebih bagi anak. Selain pengarahan positif yang logis, anak juga perlu diberikan nasihat-nasihat yang positif. Nasihat yang diberikan orang tua hendaknya tidak mengandung unsur emosional dari kita. Maka kita harus membahasakan nasihat sesuai dengan kemampuan anak. Lebih baik pula jika nasihat yang diberikan orang tua diiringi dengan contoh-contoh nyata dan logis.
Ketiga, menasihati anak dalam keadaan tenang. Mengapa harus dengan tenang? Di atas kita sudah mengetahui bahwa anak perlu diberi pengaarahan positif dan nasihat yang tidak mengandung emosional. Selanjutnya sekarang adalah menasihati dalam keadaan tenang, artinya orang tua harus menghilangkan kejengkelannya ketika berbincang tentang kenakalan anak. Hal yang terpenting, orang tua seharusnya tidak langsung ‘melabrak’ anak dengan kata-kata yang bernada membentak. Untuk itu, orang tua hendaknya menenangkan diri terlebih dahulu dan mulai berbicara atau menasihati anak jika merasa sudah dalam keadaan tenang. Cara seperti ini cukup efektif agar anak aktif menjadi kreatif, bukannya malah memberontak.
Keempat, kesabaran dan ketekunan. Anak yang aktif pasti banyak melakukan aktivitas, dalam bentuk apapun itu. Untuk itu dalam mengarahkan anak, orang tua hendaknya bersabar disertai dengan ketekunan. Kesalahan dan ketekunan ini diperlukan karena kemungkinan anak akan melakukan kesalahan yang sama. Orang tua juga hendaknya kita meluangkan waktu untuk melakukan satu aktivitas yang sama dengan anak kita. Terlebih lagi jika aktivitas tersebut adalah aktivitas yang sangat digemari anak.
Kelima, memberikan liburan yang kreatif. Menghabiskan liburan bersama anak pasti sangat menyenangkan. Dalam hal ini, orang tua harus jeli dalam memilih momen liburan bersama, termasuk saat memilih tempat liburan. Karena selain sebagai tempat rekreasi, liburan juga bisa menjadi tempat untuk mengasah kreativitas anak.
Mengadakan liburan yang kreatif tidak harus mahal. Akan teatapi yang terpenting adalah sesuai dengan minat anak. Liburan yang kreatif juga tidak harus dilakukan di luar rumah, karena rumah bisa juga disulap menjadi tempat liburan yang mengasikkan dan memicu kekreatifan anak. Contoh berlibur di rumah yang dapat memicu kekreatifan anak adalah berkebun, mendekorasi ulang kamar atau rumah, membuat kreasi pernak-pernik, dan masih banyak lagi ide kreatif lainnya. Kalaupun orang tua ingin mengajak anak berlibur di luar rumah, sarana permainan outbond bisa menjadi pilihan utama untuk meningkatkan kreativitas anak. Seperti yang ditulis di awal, anak kreatif memang cenderung aktif. Oleh karena itu, wahana permainan alam yang penuh tantangan cenderung lebih disenangi anak kreatif yang emosi dan jiwanya lebih mudah menyatu dengan permainan ini. Pemilihan permainan outbond ini juga bisa mendidik anak untuk bekerjasama, mengenal arti toleransi, mengembangkan kemampuan sosialisasi anak, dan banyak manfaat lainnya.
Terakhir, membuat permainan kreatif dan edukatif.  Permainan kreatif dan edukatif biasanya adalah permainan yang membantu anak meningkatkan daya pikir, logika, dan kreativitas anak. Jenis mainan seperti ini sudah dijual bebas di pasaran. Mainan ini bisa berbentuk puzzle, kartu, balok-balok kayu, dan lain sebagainya. Ketika anak sudah memiliki permainan jenis ini, bukan berarti orang tua bisa begitu saja meninggalkan anak. Orang tua juga perlu mendampingi anak dalam memainkan permainan ini, supaya anak bisa mendapatkan banyak pengarahan dan pelajaran baru dari apa yang telah dimainkannya.
Indah dalam Kebaikan
Pengetahuan itu ibaratnya hak milik seorang mukmin yang hilang, dimanapun ia menjumpainya, di situ ia mengambilnya.-H.R. al-Askari-
Kreatif biasanya dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan seseorang. Proses itu membutuhkan kesiapan lahir dan batin bagi siapapun yang ingin maju. Dalam Islam kreatif itu tidak dilarang, selama kreatifitas itu tujuannya untuk kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat. Karena, kreatifitas juga merupakan bagian dari ilmu yang harus terus digali dan dikembangkan lagi. Siapapun dia, apapun statusnya, anak orang kaya, anak dari kalangan biasa, mereka semua berhak menjadi anak yang kreatif.
Semoga dari proses kreatifitas anak-anak kita, akan terbentuk penemuan baru, pengetahuan baru, dan pengalaman baru. Semoga pula dengan tumbuhnya kreatifitas anak, mereka selalu menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup, sehigga menjadi generasi bangsa yang kreatif dan berkepribadian Islami. Aamiiin(nir/berbagai sumber) 
sumber http://muzakki.com/membina-keluarga/membina-keluarga/717-mendidik-anak-menjadi-kreatif.html

4 Kunci Mempertahankan Kreatifitas Anak

Membangun kepribadian anak dengan modal cinta Dengan cinta maka orangtua dapat menerima anak apa adanya. Terlepas dari apakah orangtua melihat kelebihan anak ataukah tidak, terlepas dari apakah orangtua menyukai cacat (kelemahan) anak atau tidak. Tentu saja hal ini hanya mungkin bagi orangtua yang memiliki tanggungjawah.
Orangtua yang baik tidak akan menuntut anaknya untuk sama dengan anak lainnya. Karena setiap individu adalah unik. Kita dapat membentuk kepribadian anak kita, tetapi bukan untuk menyamakan karakter mereka. Seperti kita lihat
sahabat Umar ra, Abu Bakar ra dan sebagainya, mereka tidak memiliki karakter yang sama meskipun masing-masing mereka merupakan pribadi-pribadi yang Islami. Keunikan mereka justru menjadian mereka ibarat bintang-bintang yang gemerlapan di langit, terangnya bintang yang satu tidak memudarkan terangnya bintang yang lain. Begitu pula
halnya dengan kreatifitas, setoap sahabat adalah insan kreatif.
Masing-masing mereka memiliki dimensi kreatifitas sendiri-sindiri. Salman Al-Farisi penggagas perang parit, Umar bin Khattab penggagas ketertiban lalu lintas, Abu Bakar Ash-Shiddiq penggagas tegaknya sistim ekonomi islam, Khalid bin Walid penggagas strategi perang moderen dan banyak lagi. Tinggal yang menjadi masalah sekarang adalah, kita para orangtua kurang bersungguh-sungguh untuk menemukan bakat-bakat dan minat-minat yang dimiliki oleh anak. Seolah-olah kita para orangtua lebih suka anak kita menjadi fotokopi orang lain, ketimbang dia tumbuh
sebagai suatu pribadi yang utuh.
Kalau anak-anak Amerika dengan shibghah (celupan) individualis liberalis dapat mengatakan : I want to be me ! Mengapa anak-anak kita, anak muslim tidak dapat mengatakan : Ana Abdullah ( Saya abdi Allah) ! Kalau kepribadian menentukan kreativitas, maka seorang muslim pada hakekatnya memiliki potensi kreatif lebih besar dibandingkan ummat-ummat lainnya. Karena kepribadian islam tiada tandingannya.
Menumbuhkan dan Mengem-bangkan Motivasi
Kepribadian yang kuat biasanyaa memiliki motivasi yang kuat pula. Tapi karena kreatifitas itu dimulai dari suatu gagasan yang interaktif, maka dorongan dari luar juga diperlukan untuk memunculkan suatu gagasan. Dalam hal ini para orangtua banyak berperan. Dengan komunikasi dialogis dan kemampuan mendengar aktif maka anak akan merasa dipercaya, dihargaai, diperhatikan, dikasihi, didengarkan, dimengerti, didukung, dilibatkan dan diterima segala kelemahan dan keterbatasannya. Dengan ini anak akan memiliki dorongan yang kuat untuk secara berani dan lancar mengemukakan gagasan-gagasannya.
Selain komunikasi dialogis dan mengdengar aktif, untuk memotivasi anak agar lebih kreatif, sudah seharusnya kita memberikan perhatian serius kepada aktifitas yang tengah dilakukan oleh anak kita. Seperti misalnya melakukan aktifitas bersama-sama mereka. Kalau kita biasa melakukan shaum dan shalat bersama anak-anak kita, mengapa untuk aktifitas yang lain kita tidak dapat melakukannya ? Bukanlah lebih mudah untuk mentransfer suatu kebiasaan yang sama ketimbang harus memulai suatu kebiasaan yang sama sekali baru ? Dengan demikian sesungguhnya seorang muslim memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadikan anak-anak mereka kreatif.
Tinggallah sekarang bagaimana kita sebagai orangtua muslim senantiasa berusaha untuk memperkenalkan anak-anak kita dengan berbagai hal dan sesuatu yang baru untuk memenuhi aspek kognitif mereka. Agar mereka lebih terdorong lagi untuk berpikir dan berbuat secara kreatif. Suatu hal yang perlu dicatat dalam memotivasi anak agar kreatif, lakukanlah serekreatif mungkin dan hindarilah kesan-kesan rekonstruktif.
Mensistimatisir Proses Pembentukan Anak Kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam pembentukan anak kreatif adalah :
Pertama :
Persiapan waktu, tempat, fasilitas dan bahan yang memadai. Mengenai waktu dapat berkisar antara 5- 30 menit setiap hari, sangat tergantung pada bentuk kreatifitas apa yang hendak dikembangkan. Begitu pula halnya dengan tempat, ada yang memerlukan tempat yang khusus dan ada pula yang dapat dilakukan di mana saja. Fasilitas tidak harus selalu canggih, tergantung sasaran apa yang hendak dicapai. Bahan pun tidak harus selalu baru, lebih sering justru menggunakan bahan-bahan sisa atau bekas.
Kedua :
Mengatur selang seling kegiatan. Kegiatan diatur sedemikian rupa agar dalam melakukan aktifitas tersebut anak-anak terkadang melakukan aktivitas secara individual, tetapi adakalanya juga melakukan aktifitas secara kelompok. Terkadang anak-anak melakukan aktivitas secara kompetitif, terkadang juga secara kooperatif.
Ketiga :
Menyediakan satu sudut khusus untuk anak dalam melakukan aktifitas Kita dapat menyediakan satu sudut di rumah untuk menghamparkan sajadah dan kemudian shalat diatasnya. Mengapa kita tidak dapat menyediakan sudut
khusus untuk kreatifitas anak-anak kita ?
Keempat :
Memelihara iklim kreatifitas agar tetap terpelihara Caranya dengan mengoptimalkan point-point yang telah disebutkan pada kunci no 2 untuk mempertahankan kreatifitas anak.
Mengevaluasi Hasil Kreativitas
Selama ini kita sering terjebak untuk menilai kreatifitas melalui hasil atau produk kreatifita. Padahal sesunggunya proses itu lebih penting ketimbang hasilnya. Pentingnya penilaian kita terhadap proses kreatifitas, bukan berarti kita tidak boleh menilai hasil kreatifitas itu sendiri. Penilaian tetap dilakukan, hanya saja ada satu hal yang harus kita perhatikan dalam menilai. Hendaknya kita menilai hasil kreatifitas tersebut dengan menggunakan perspektif anak dan bukan menggunakan perspektif kita sebagai orang tua. Kalau kita mendapati seorang anak berusia 3 tahun dan kemudian dia dapat menyebutkan angka dari 1 sampai 10 apakah kita akan mengatakan, “Ah, kalau cuma kaya’ begitu saya bisa !” Tentu saja satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam mengevaluasi prosos dan hasil kreatifitas adalah “Open Mind” atau dengan “Pikiran yang terbuka”. Apalagi anak seringkali mengemukakan gagasannya atau menelurkan suatu hasil kreatifitas yang tidak lazim. Setiap kali kita mengevaluasi hasil tersebut, kita harus selalu memberikan dukungan dan juga penguatan. Dan begitu juga sebaliknya, jauhi celaan dan hukuman... agar anak kita tetap kreatif.
Tulisan diangkat dari Ummi 8/VI/ 1994
Sumber : www.shvoong.com

Senin, 09 April 2012

20 Tips Singkat Fotografi

Berikut 20 tips singkat fotografi untuk anda menambah informasi dan kemampuan fotografi anda, saya yakin beberapa sudah pernah dilakukan tetapi semoga beberapa lainnya merupakan informasi baru. Klik tanda ¶ (jika ada) disebelah kanan masing-masing tip untuk melihat informasi yang lebih detail. Silahkan:

  1. Untuk melatih kemampuan panning anda, potretlah benda yang sedang bergerak dengan kecepatan normal (orang naik motor misalnya), gunakan mode shutter priority dan set shutter speed maksimal 1/30 detik, lebih lambat lebih baik. Perhatikan background anda!
  2. Untuk memotret makro (jarak super dekat), aktifkan fitur Live View kamera digital anda agar lebih mudah memeriksa depht of field dan fokus.
  3. Filter CPL (polarisasi) sangat berguna untuk menghilangkan pantulan sinar matahari di air dan kaca, dan juga berfungsi memperbaiki warna langit. Pernahkah anda mengenakan kacamata hitam dengan polariser?
  4. Saat memotret bayi/anak-anak, pastikan anda memusatkan perhatian ke mata. Tak ada yang bisa mengalahkan keindahan mata anak-anak.  
  5. Megapiksel bukanlah fitur terpenting dari sebuah kamera, ukuran sensorlah fitur yang paling penting
  6. Untuk foto portait (wajah) di luar ruangan, usahakan ketika cuaca sedang mendung. Kalaupun tidak, carilah daerah yang redup dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sinar matahari membuat bayangan yang keras di wajah.
  7. Ketika anda memotret di kondisi minim cahaya dan kesusahan menggunakan autofokus, gantilah dengan manual fokus. Fitur autofokus dikamera biasanya cukup lama mencari titik fokus di kondisi remang-remang.
  8. Untuk foto siluet, pastikan anda matikan flash serta gunakan mode sunset (untuk kamera pocket), untuk SLR gunakan mode manual dan ukurlah eksposur di area terang di belakang obyek.
  9. Download-lah buku manual versi pdf untuk kamera anda, sehingga anda mudah melakukan pencarian secara cepat untuk kata yang ingin anda ketahui dibanding harus membolak-balik halaman kertas.
  10. Sebelum berangkat memotret, periksa kembali setting kamera anda, jangan sampai anda mneggunakan setting yang salah (memotret landscape dengan ISO 1000 misalnya). Menurut para fotografer pro, urutan pengecekan yang baik adalah berikut: cek White Balance – aktifkan fitur Highlight warning – cek settingan ISO – cek ukuran Resolusi foto anda.
  11. Formatlah memory card hanya di kamera, jangan pernah memformat memory card dikomputer. Selain jauh lebih cepat dan mudah juga jauh lebih aman jika anda melakukannya di kamera.
  12. Jika anda memiliki kapasitas hard disk berlebih di komputer serta suka melakukan foto editing, gunakan format RAW saat memotret, jika tidak cukup gunakan JPG.
  13. Jika anda benar-benar menyukai fotografi landscape, fotolah di jam-jam berikut: dari jam 5 sampai jam 8 pagi, serta dari jam 4 sampai jam 7 sore.
  14. Ketika memotret, lihatlah area paling terang yang masuk ke viewfinder anda. Kalau terangnya terlalu mencolok dibanding area lain, gantilah sudut pemotretan.
  15. Untuk memotret HDR, gunakan mode auto bracket. Satu lagi: untuk foto HDR landscape yang dahsyat, tunggulah sampai muncul mendung sedikit, lalu mulailah memotret.
  16. Jika anda membeli lensa atau kamera bekas, pastikan anda melakukan transaksi dengan bertemu penjualnya secara langsung. Anda harus menguji barangnya, memegang dan mencobanya
  17. Sepanjang memungkinkan, gunakan settingan ISO serendah mungkin. Meskipun noise reduction bisa mengurangi noise yang dihasilkan oleh ISO yang tinggi, namun akan mengurangi detail foto secara keseluruhan.
  18. Kalau warna membuat foto anda terlalu “sibuk” dan ramai, ubahlah foto anda menjadi foto hitam putih
  19. Untuk menghasilkan foto hitam putih yang bagus, perhatikan kontras dalam foto anda. Semakin banyak kontras (area gelap dan terang yang beragam), semakin bagus foto hitam putih anda.
  20. Bawalah kamera kemanapun anda pergi, cara paling cepat meningkatkan kemampuan fotografi anda adalah dengan memperbanyak jam terbang, tidak ada yang lebih baik.
kredit foto adrift oleh: Richard Outram.

Kamis, 16 Februari 2012

Bagian-bagian Utama Buku

Untuk mempermudah proses menulis, kamu harus tahu tentang bagian-bagian yang ada dalam buku. Agar kamu tahu, saat kamu sedang menulis, kamu menulis bagian yang mana dari bagian-bagian buku tersebut. Kaver. Kaver adalah tempat judul berada.
Kemudian halaman persembahan, yaitu di mana kamu bisa menulis sesuatu untuk orang yang spesial menurut kamu.
Kemudian daftar isi, kamu tahu apa itu khan.
Kemudian prolog, atau pembukaan, yaitu tempat kamu bisa memberikan pengantar sebelum pembaca memasuki inti dari buku.
Isi, yaitu yang berisi bab, sub-bab, yang isinya adalah inti dari buku.
Kemudian epilog, berikanlah epilog atau penutup untuk memberikan semacam kalimat sampai jumpa dari tulisanmu.
Di bagian terakhir, ada daftar pustaka, tempat kamu menuliskan daftar buku yang kamu jadikan referensi.
Bisa juga kamu tambahin biografi kamu untuk mengenalkan dirimu ke pembaca, saya biasa menuliskannya dengan sebuta fachmygraphy.

Jumat, 18 November 2011

KRITERIA CERPEN YANG BERKUALITAS ALA GURU SASTRA

numpang keren
KRITERIA CERPEN YANG BERKUALITAS ALA GURU SASTRA
Karya Avet B. P, S.Pd AP
Inilah cerpen berkualitasku! mana cerpen berkualitasmu?
Berdasarkan sebuah analisa dan pengamatan mendalam terhadap karya-karya tulis bernuansa fiksi; khususnya cerpen; tidak  mudah memberikan suatu definisi yang membedakan mana cerpen yang berkualitas, mana cerpen yang kurang berkualitas dan mana cerpen yang tidak berkualitas. Disebabkan karena antara penulis yang satu dengan penulis lainnya memiliki pandangan yang berbeda, yang didasari atas pendidikan dan pengalaman yang tidak sama; termasuk saya, seorang guru sastra yang semata-mata menulis karena hobi dan sebuah prinsip : kata-kata dapat menaklukkan dunia.
Walaupun demikian, secara umum kebanyakan dari penulis mengatakan bahwa cerpen yang berkualitas adalah cerpen yang utuh, integral, merupakan satu bentuk kesatuan yang manunggal.  Tidak ada unsur-unsur yang tidak perlu digunakan, sebagaimana tidak ada juga unsur-unsur yang digunakan diluar keperluan.  Seluruh isinya seimbang, fokus, berarti, dan mampu memaknai arti. Fokusnya bisa tercermin dari karakter unsur yang terdapat di dalamnya, seperti : Penokohan, pusat penceritaan, alur cerita, tempat, waktu, dan suasana cerita.
Lebih dari itu, seorang cerpenis yang kreatif harus mampu memberikan sesuatu dari sesuatu yang ditulis, seperti pesan-pesan moral kepada para pembaca.
Sebagai seorang guru sastra yang pernah membaca ratusan bahkan ribuan cerpen dari penulis-penulis yang beraliran berbeda, saya memiliki kesimpulan bahwa cerpen yang berkualitas memiliki lima kriteria, yaitu:
Pertama. Cerpen itu harus pendek, tidak menguras banyak waktu untuk membacanya, bisa selesai dibaca dalam waktu singkat tapi tetap memberikan makna yang mendalam. Cerpen itu bagaikan celana jeans wanita; yang bahannya ketat, tidak banyak memberi kelonggaran. Sebuah pengalaman; kebanyakan dari siswa dan siswi merasa bosan membaca cerpen yang memiliki uraian yang panjang tentang tokoh cerita atau pemandangan alam.
Kedua. Cerpen mengandung efek yang tunggal dan unik, artinya : sebuah cerpen yang baik hanya memiliki satu pikiran utama dan action yang bisa dikembangkan melalui sebuah garis dari awal hingga akhir; berbeda dengan novel yang memungkinkan memiliki garis-garis sampingan atau cerita-cerita penyeling (tambahan), cerpen tidak memiliki hak untuk melebarkan fokus cerita.
Ketiga. Cerpen harus ketat dan padat. Seorang cerpenis harus berusaha memadatkan setiap detail pada ruang tulisannya sepadat mungkin. Tiada ruang untuk memaparkan aneka ragam kejadian atau serba detail karakter seperti pada novel. Maksudnya tidak lain agar pembaca mendapat kesan tunggal dari keseluruhan cerita. Inilah sebabnya dalam cerpen amat dituntut ekonomi  bahasa. Segalanya harus diseleksi secara ketat, agar misi yang hendak disampaikan dapat dikemukakan secara tajam, dan menghunjam ke dalam hati pembacanya. Sebuah cerita pendek mengenal disiplin waktu, irama, mengenal warna, dibatasi oleh patokan sehingga memerlukan kelicikan, tetapi juga sekaligus ketegelan dan kebijaksanaan dari penciptanya.
Keempat. Cerpen harus terlihat dan terasa sungguhan. Cerpen memang karya fiksi tapi harus diupayakan agar terkesan nyata. Sebab terlihat dan terasa seperti sungguhan adalah prinsip seni penceritaan sebuah cerita termasuk pula cerpen. Semua fiksi tidak boleh kentara nilai fiksi atau imajinasinya meskipun semua orang tahu bahwa itu hanya fiksi belaka. Oleh karena itu, seorang cerpenis jangan membuat plot atau alur cerita yang mustahil. Jangan pula melebih-lebihkan karakter tokoh ceritanya seperti pada kartun atau karikatur.
Kelima. Cerpen harus memberi kesan yang tuntas. Selesai membaca cerpen, pembaca harus merasa bahwa cerpen itu benar-benar selesai. Tidak boleh tidak cerita itu harus rampung pada satu titik. Jika tidak, pembaca akan bertanya-tanya atau bahkan merasa kecewa.
Itulah lima kriteria cerpen yang berkualitas menurut saya, menurut kamu bagaimana? Sah-sah saja bila ada tambahan, sepanjang masih bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Bagi saya, tak ada yang tetap selain perubahan. Perubahan selalu ada, sepanjang hidup tetap berjalan.
Apalah arti sebuah kata, tanpa arti yang bermakna. Okey, Kawan! Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi untuk terus berkarya dalam kata-kata.

Senin, 10 Oktober 2011

Mengapa Saya Menulis Cerita Anak?

Mengapa Saya Menulis Cerita Anak?

Awalnya karena saya suka membaca. Saat saya kecil, orangtua saya menyediakan saya beberapa jenis bacaan, seperti Majalah Bobo, komik-komik Nabi, dan majalah-majalah lain. Namun majalah Bobolah yang paling banyak memengaruhi saya.
Saya senang melihat gambar rumah Bobo yang sangat nyaman. Saya membayangkan betapa senangnya tinggal di sana, dan mengalami banyak hal-hal lucu. Ada Bobo yang cerdik, Bibi Tutup Pintu yang gemar berseru,”Tutup pintu!”, Coreng yang gemar menggambar, Tut Tut yang suka main kereta api, dan Paman Gembul yang suka makan wortel.
Di majalah Bobo pula, saya berkenalan dengan dua hewan yang bersahabat. Persahabatan mereka sangat menyentuh hati. Rong Rong kucing dan Bona gajah kecil berbelalai panjang. Belalainya bisa disulap menjadi apa saja, untuk menolong orang-orang di sekitarnya.
Ada juga kisah Negeri Dongeng yang gambarnya luar biasa indah. Kisah-kisahnya sungguh membawa kita bertualang ke dunia dongeng. Bersama Nirmala dan Oki, kita melihat permadani terbang, kuda sembrani bersayap emas, kunjungan ke angkasa dan dasar laut, bertemu makhluk-makhluk ajaib, melihat pabrik pelangi. Sangat imajinatif.
Membaca petualangan Deni Manusia Ikan pun sangat menggemaskan dan menegangkan.Hati bertanya-tanya, kapankah Deni bertemu orang tuanya? Kapankah makhluk setengah ikan itu mendapatkan kebahagiaan yang dicarinya?
Cerpen-cerpen dan dongeng-dongengnya pun bagus. Banyak di antara cerita itu yang menggambarkan kebaikan hati, kesabaran, dan ketabahan tokoh-tokohnya dalam menjalani hidup yang sulit, atau dalam memperjuangkan sesuatu. Cerita-cerita itu mengalir saja. Mengilhami dan mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik, dan tidak menyerah dalam mencapai sesuatu.
Semua tulisan itu sangat berkesan buat saya. Saya pun jadi ingin menulis cerita anak. Karena saya pun memiliki sesuatu yang ingin dibagi. Baik itu ide cerita yang ada di benak saya atau pun pengalaman sehari-hari. Itulah awal saya menulis cerita anak.
Saya pun mulai menulis. Namun cerita-cerita itu hanya saya simpan. Bertahun-tahun kemudian, saat saya kuliah di jurusan jurnalistik, saya mencoba mengirim karya-karya saya, termasuk karya yang saya tulis sejak kecil. Saya mencoba mengirimnya ke berbagai media yang memuat cerita anak, termasuk Bobo. Sebagian di antara cerita-cerita itu ada yang dimuat, sebagian lagi dikembalikan atau tidak ada kabarnya.
Banyak orang yang berjasa, sehingga saya punya keberanian untuk terus menulis. Hampir semuanya saya kenal saat saya masih kuliah. Ada Benny Rhamdani, teman saya sewaktu di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Melihatnya rajin menulis dan menceritakan pengalamannya menulis, saya pun jadi ingin rajin menulis seperti dirinya.
Ada Bapak Isman Santosa, editor cerita anak dari Majalah Bobo. Beliau rajin mengembalikan karya-karya saya yang tidak bisa dimuat dan memberi catatan-catatan untuk perbaikan. Ada Bapak Soekanto SA yang saat itu editor Gaya Favorit Press. Saya bertemu Pak Soekanto saat menyerahkan naskah. Sayangnya, naskah itu belum bisa dimuat. Dan Pak Soekanto beberapa kali mengirim buku-buku terbitan Gaya Favorit Press, disertai catatan, buku seperti inilah yang bisa dimuat. Mungkin banyak lagi orang yang berjasa, sehingga saya senang menulis. Dan saya sangat berterima kasih pada mereka.
Sampai saat ini saya sudah menulis sekitar 250-an cerita anak (cerpen, dongeng, cergam, dan komik). Karya-karya tersebut sudah dimuat di Majalah Bobo, Ananda, Suara Pembaruan, Bocil, Mombi, dan Kompas Anak. Saya juga sudah menulis 31 buku cerita anak. Dan saya sangat berharap, saya bisa menulis lebih banyak lagi cerita anak. Cerita-cerita yang lebih bagus dari yang pernah saya tulis sebelumnya. Karena sampai saat ini pun saya masih terus belajar menulis cerita anak yang baik.
Respon atau feedback dari pembaca buat saya sangat penting. Itu setidaknya memberi gambaran pada saya, apakah cerita-cerita yang saya tulis bisa menyentuh hati pembacanya atau tidak. Misalnya ada dua ibu yang bercerita pada saya, bahwa anaknya setiap malam ingin dibacakan buku The Dancing Fishes (Ikan-Ikan Penari). Ada juga seorang ibu yang bercerita, setiap malam sebelum tidur, anaknya berpura-pura menjadi tokoh Ringrang sambil berguling-guling. Anak itu mengatakan, “I dont want to swim, I don’t want to swim!” persis seperti berang-berang yang ada di buku Ringrang is Afraid to Swim (Ringrang Takut Berenang). Ada juga anak yang mengirim email pada saya, menanyakan apakah lumba-lumba pelangi itu benar-benar ada? Anak itu senang lumba-lumba dan sudah membaca semua hal tentang lumba-lumba, tapi tak mendapati tulisan tentang lumba-lumba pelangi seperti yang ada dalam buku Lumba-Lumba Pelangi Terakhir.
Ada juga kritik yang dilontarkan seorang bapak pada saya, katanya cerita-cerita kurang action yang seru.
Apa pun bentuk feedback,  pujian atau kritik, menurut saya akan sangat berguna bagi kemajuan seorang penulis.
Perlu saya katakan di sini, saya bukan ahli bacaan anak, saya juga bukan pengamat bacaan anak. Saya adalah orang yang senang menulis cerita anak, dan kebetulan bekerja di media anak (Majalah Kreativitas Mombi). Di halaman-halaman berikut, saya akan memaparkan tentang pengalaman saya menulis. Mudah-mudahan bermanfaat bagi para penulis, terutama yang akan mulai menulis cerita anak.
Dari Mana Ide Berasal?
Ide itu itu bisa didapat dari mana-mana. Ada yang mengatakan, ide bisa didapatkan melalui bacaan, pendengaran, perasaan, penglihatan, dan pengamatan. Ide bisa didapatkan ketika membaca koran, buku, dan majalah. Ide bisa didapat saat menonton televisi, melihat pemandangan, bertemu dan berbicara dengan orang lain. Ide juga bisa didapat dari apa yang sedang kita rasakan, seperti sedih, marah, jengkel atau gelisah.
Itu memang benar. Saya mendapat ide saat melihat suatu peristiwa, mengobrol, menonton, dan jalan-jalan. Tapi membaca pun menyumbang sangat banyak ide. Membaca buku ilmu pengetahuan, membaca koran, membaca cerita anak. Bahkan melihat ilustrasi cerita anak yang bagus pun bisa mendapat ide baru, yang sama sekali berbeda dengan cerita yang dibaca tersebut.
Saya akan sedikit menceritakan bagaimana saya mendapat ide untuk beberapa buku cerita anak.
Buku Jojo, The Green-Pencil-Tailed Gecko (Jojo, Tokek Berekor Pensil Warna) menceritakan tentang sekelompok tokek yang berekor pensil warna. Mereka adalah tokek yang senang berkelompok dan gemar menggambar. Sampai akhirnya timbul masalah saat Jojo, tokek berekor pensil warna hijau, merasa menjadi tokek yang paling penting. Saya mendapat ide cerita itu saat melihat cecak berlari di dinding. Cecak itu ekornya telah potus, dan sedang tumbuh ekor baru yang belum sempurna, sehingga bentuk ekornya seperti pensil. Saat itu saya bepikir, bagaimana ya kalau cecak mempunyai ekor pensil warna? Lalu ide pun berkembang menjadi sebuah cerita.
Buku Air, Selamat Datang! Menceritakan tentang seorang anak kecil yang menyadari betapa pentingnya air, karena merasakan betapa sengsaranya tidak ada air, karena air di kerannya tak mengalir. Sampai-sampai keluarganya harus minta air ke tetangga. Anak itu pun memutuskan untuk berhemat air, saat air sedikit atau pun melimpah. Ide itu didapat saat di rumah saya air tidak mengalir.
Buku Kebun Binatang 2158 mengisahkan kehidupan di masa depan, ketika banyak binatang sudah punah, sehingga anak-anak di masa itu hanya bisa melihat robot-robot di kebun binatang. Idenya timbul dari keprihatinan banyaknya  hewan-hewan yang terancam punah.
Kalau kita mendapat ide, sebaiknya cepat dicatat. Karena menurut pengalaman saya, kalau ide-ide itu tak dicatat, ide itu akan terlupakan. Memang, sampai saat ini saya tidak selalu mencatat ide-ide yang terlintas.
Kalau itu terjadi, sayang sekali. Karena biasanya saya tidak bisa mengingat ide yang sama persis, dengan ide yang terlintas saat itu. Padahal bisa jadi ide itu sangat bagus.
Ada saatnya ide-ide bermunculan dengan mudah. Namun ada kalanya sama sekali tak ada ide untuk dijadikan cerita. Kalau ini terjadi carilah ide sampai dapat, jangan menunggu sang ide datang.
Bagaimana Saya Menulis Cerita Anak?
Keinginan yang kuat menulis. Itulah salah satu hal terpenting dalam menulis cerita anak. Tanpa keinginan yang kuat, sebuah cerita anak yang paling sederhana pun rasanya sulit terwujud. Mungkin kita bisa mengatakan, kita kekurangan waktu. Itu bisa jadi benar, tapi sebenarnya kalau menulis itu sebuah kebutuhan, menulis akan menjadi sebuah keharusan. Sehingga kita akan menyediakan waktu setidaknya setengah jam, satu jam, atau dua jam setiap harinya, khusus untuk menulis.
Nah, kita sudah mengharuskan diri kita menulis dan menyediakan waktu, kita bisa mencari ide dan tema untuk cerita kita. Atau membuka kembali buku catatan yang berisi ide-ide kita. Tulisalah hal-hal yang berarti untuk kita atau hal yang kita sukai. Lebih mudah kalau kita membuat kerangka cerita terlebih dahulu. Bagaimana alur ceritanya, siapa saja karakternya, bagaimana dan kapan setting ceritanya, bagaimana endingnya. Setelah kita mulai menulis dan terus menulis.
Usahakan, selesaikan dulu satu cerita, dan jangan berhenti. Tulisalah cerita semenarik yang kita bisa. Setelah kita menyelesaikan sebuah cerita, tinggalkan. Simpanlah tulisan untuk beberapa hari, lalu baca lagi. Saat itu biasanya kita akan menemukan beberapa kesalahan, dan itulah saat untuk memperbaikinya. Setelah itu editlah tulisan sampai bagus.
Saya beri contoh tentang proses saya menulis cerita Lautan Susu Coklat. Ide cerita itu muncul ketika saya ketika saya memikirkan susu coklat. Saya memang sangat suka rasa susu coklat. Saat itu terpikir oleh saya, apakah ada orang yang belum pernah meminum susu coklat, sehingga sangat ingin tahu bagaimana rasanya? Saya pikir, menarik juga menulis cerita seperti itu.
Setelah itu saya mencari tokoh untuk cerita saya. Setelah mencari-cari, akhirnya saya menemukan anak laki-laki bernama Tio yang berusia 8 tahun. Tio adalah salah seorang penghuni Panti Asuhan Kasih, milik Ibu Swasti yang penuh kasih.
Masalah dalam cerita ini adalah keinginan Tio untuk mengetahui rasa susu coklat. Tio menanyakan rasa susu coklat pada Ibu Swasti, tapi itu membuat Ibu Swasti sedih, karena ia tak mampu membelikan Tio susu coklat. Tio menanyakan rasa susu coklat pada teman-temannya, tapi teman-temannya malah menertawakan Tio. Mengapa? Karena karena susu coklat bukanlah hal yang asing buat mereka. Mereka meminumnya hampir setiap hari. Tio begitu ingin tahu rasa susu coklat, sampai-sampai  memimpikannya. Di akhir cerita, Tio mendapatkan apa yang diinginkannya.
Saya suka akhir cerita yang menyenangkan, karena itu memberi harapan. Memang, ending cerita tidak harus selalu menyenangkan. Tapi setidaknya melegakan atau memuaskan pembacanya.
Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam penulisan cerita anak :
  • Kita memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, misalnya pengetahuan, informasi, dan hiburan. Dalam menulis cerita, kita ingin menyisipkan pesan moral. Sangat baik kalau cerita tidak menggurui. Biarlah anak menyimpulkan sendiri cerita yang kita tulis.
  • Cara menyajikannya bagaimana? Tentu yang menarik lebih disukai.
  • Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana, jangan menggunakan kata-kata yang bersayap dahulu. Gunakan bahasa yang baik dan benar, tapi tetap ceria.
  • Karena anak-anak itu seperti gelas yang kosong. Kita ikut mengisi gelas itu. Yang mendidik anak adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat (termasuk kita media massa dan para penulis cerita anak). Karena pertanggungjawaban moral kita lebih besar, karena kita ikut mendidik.
Cerita Disimpan Sayang
Kalau kita sudah selesai menulis cerita, mau diapakan cerita itu? Disimpan? Bisa saja, tapi sayang, bukan? Membuat sebuah cerita adalah satu prestasi, karena kita sudah melalui berbagai rintangan. Rintangan melawan rasa malas sehingga kita mau menulis. Rintangan mencari ide yang menarik, lalu mengembangkannya dalam cerita sampai selesai. Alangkah baiknya kalau kita mengirim cerita itu ke majalah kalau itu berupa cerpen, atau ke penerbit kalau karya kita berupa buku.
Sebelum mengirim cerita, pelajari dulu media atau penerbit yang akan kita kirimi naskah. Apakah mereka memuat atau menerbitkan cerita anak? Jenis-jenis cerita anak seperti apa yang mereka muat atau terbitkan? Kita bisa membeli dan mempelajari majalah atau buku yang diterbitkan. Apakah cerita yang kita tulis sudah sesuai dengan misi majalah atau penerbit tersebut? Kalau sudah demikian, kita bisa mengirimnya.
Saat saya mengirim cerita ke majalah dulu, saya menyertakan surat pengantar pada editor, berisi permintaan untuk dikembalikan dan dikoreksi, apabila cerita saya tidak bisa dimuat. Saya juga sertakan perangko pengembalian. Setelah saya lebih mengenal para editornya, itu lebih menyenangkan karena saya bisa berdiskusi tentang cerita anak itu secara langsung.
Mengirim cerita anak pada penerbit pun tak jauh beda. Di surat pengantar, kita bisa menceritakan ringkasan ceritanya, ditujukan untuk usia berapa buku tersebut, dan usulan kita tentang bentuk bukunya.
Jadi mengirim cerita anak kepada majalah atau penerbit, bisa lewat pos. Namun kalau media anak atau penerbit itu satu kota dengan tempat tinggal kita, apa salahnya menyerahkannya langsung. Siapa tahu kita bisa berkenalan dengan editornya. Siapa tahu dari pertemuan itu kita bisa mendapat banyak masukan yang berguna dan mendapatkan kemungkinan-kemungkinan lain.
Saya rasa, ada banyak majalah yang bisa kita kirimi cerita anak. Di Gramedia Majalah saja ada Majalah Bobo, Mombi, Bona Kreatif, dan beberapa majalah yang akan terbit. Ada juga Kompas Anak yang terbit setiap hari Minggu, bersama koran Kompas. Belum lagi para penerbit yang sangat banyak jumlahnya. Namun kita harus sabar menunggu pemuatan, karena biasanya banyak sekali stok cerita yang siap muat. Mudah-mudahan saja media anak yang cukup banyak itu bisa menjadi ladang yang subur untuk melatih keterampilan kita dalam menulis cerita anak.
Oleh Renny Yaniar
Pernah disampaikan pada:
Diskusi dan Temu Wicara Penakom
Pentingnya Penulisan Karya untuk Anak
Sabtu, 14 Mei 2005
Gedung A Lt. 1 Depdiknas RI
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta
sumber : http://www.visikata.com/bagaimana-saya-menulis-cerita-anak/

Unsur-usnur Cerpen Anak